HUKUM MEMAKAI CINCIN PERAK

HUKUM MEMAKAI CINCIN PERAK

Asy Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin rahimahullah

Dan dibolehkan bagi laki-laki menggunakan cincin perak. Karena Nabi shalallahu alaihi wasallam bersabda:

” Pakailah cincin dari waraq – yaitu dari perak-.”

Dan merupakan perkara yang sudah maklum bahwa Rasulullah -shalallahu ‘alaihi wa sallam bagi kita adalah uswah (teladan)  yang baik, dan jangan ada yang mengatakan tentang ini adalah kekhususan Nabi, karena hukum asalnya tidak ada kekhususan, maka siapa yang mengatakan perbuatan yang dilakukan oleh Nabi itu khusus untuk beliau maka dia harus mendatangkan dalil.

Dan zhahir ucapan pengarang: bahwa dibolehkan baik cincinnya dipakai untuk suatu kebutuhan, taklid (ikut-ikutan) dan adat atau untuk berhias karena mutlaknya untuk digunakan.

Contoh yang digunakan untuk kebutuhan, seperti seorang yang mengurusi urusan umat; seperti hakim, presiden, menteri, gubernur dan sebagainya. Manusia butuh dengan cincinya, maka ini yang disebut dengan menggunakan cincin untuk kebutuhan, karena keberadaan cincin dijarinya lebih terjaga dibandingkan disimpan disakunya, karena kalau disimpan disakunya terkadang jatuh atau dicuri.

Contoh yang digunakan karena taklid (ikut-ikutan). Ini sebagaimana yang banyak dilakukan oleh manusia sekarang, melihat temannya memakai cincin diapun mengikutinya karena taklid dan bukan karena sebagai suatu perhiasan akan tetapi karena adat satu negeri menggunakan cincin diapun memakainya.

Contoh yang digunakan untuk perhiasan, seperti seorang yang memakainya untuk berhias, oleh karena ini dia memilih perak yang paling bagus warnanya, kilauannya dan bentuknya.

Berkata sebagian ulama bahwa apabila digunakan untuk berhias maka tidak halal(haram), karena Allah menjadikannya untuk perhiasan wanita.

Allah Subhanahu wa Ta’ala  berfirman

” Dan apakah patut orang yang dibesarkan dalam keadaan berperhiasan, sedang dia tidak dapat memberi alasan yang jelas dalam pertengkaran.”

Maka ini adalah kekhususan untuk  wanita dan tidak boleh untuk laki-laki.

Yang rajih (kuat) bahwa ini adalah masalah yang umum dalam penggunaanya boleh karena kebutuhan, adat kebiasaan atau untuk berhias.

Bahkan tidak didapati adanya nash yang sahih haramnya memakai perak pada laki-laki apakah berupa cincin atau tidak pula yang lainnya, bahkan ini terdapat dalam sunnah,

Sabda Rasulullah: ” Dan adapun perak bermain-mainlah kalian dengannya sebagai permainan.”  Yaitu gunakan terserah kalian.

Oleh karena ini berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan sebagian dari ulama; ‘ Bahwa hukum asal menggunakan perak adalah halal sampai ada dalil yang menunjukkannya haram dan ini pendapat yang paling benar berdasarkan firman Allah Ta’ala :

” Dialah yang telah menciptakan untuk kalian apa yang ada dibumi seluruhnya.”

Maka jika ada seorang datang dan menggunakan perak selain bentuk cincin untuk berhias maka jangan katakan “ini haram” berdasarkan pendapat yang rajih, karena pada asalnya adalah halal.

Adapun gelang atau kalung yang dikenakan dileher dan yang semisalnya maka ini diharamkan dari sisi yang lain yaitu TASYABBUH (menyerupai) wanita dan banci, dan terkadang adanya buruk sangka terhadap laki-laki yang menggunakannya. Maka ini haram karena sebab lain bukan karena dzatnya.

Sumber : Syarhu Mumti ala Jaadi al Mustaqni’ (Kitab Zakat Juz ke 6 hal 106-108 (Ustadz Abdusy Syakur al Bughury)

———————————

(و يباح للذكر من الفضة الخاتم))

لأن النبي صلى اللّٰه عليه وسلم ((اتخذ خاتما من ورق)) متفق عليه. أي: من فضة، ومعلوم أن لنا  في رسول اللّٰه صلى اللّٰه عليه وسلم أسوة حسنة، ولا يقول قائل : إن هذا خاص به; لأن الأصل عدم الخصوصية، فمن ادعي الخصوصية في شيء فعله الرسول صلى اللّٰه عليه وسلم فعليه الدليل.
وظاهر كلام المؤلف : أنه جائز، سواء اتخذ الخاتم لحاجة، أو لتقليد وعادة، أو لزينة، لإطلاقه.
فمثال الذي يتخذه لحاجة : فكمن له شأن في الأمة، كالحاكم، والأمير، والمدير، وما أشبه ذلك أي: يحتاج الناس إلى خاتمه فهذا اتخذ لحاجة ; لأن بقاءه في أصبعه أحفظ  مت جعله في جيبه ربما يسقط، أو يسرق.

ومثال الذي اتخذ تقليدا: فكما كثير  مت الناس الآن ; يتخذ صاحبه خاتما فيوافقه في ذلك تقليدا، ولا يريد الزينة، ولكن حرت عادة أهل بلده في اتخاذ الخاتم فاتخذه.

ومثال الذي يتخذه زينة: فكمن يلبسه يريد أن يتزين به، ولهذا يختار أحسن الفضة لونا ولمعانا وشكلا.

وقال بعض العلماء : إنه إذا كان للزينة فلا يحل; لأن اللّٰه جعل التحلي بالزينة للنساء فقال تعالى : (( أومن ينشؤا في الحلية وهو في الخصام غير مبين )), وما كان من خصائص النساء، فإنه لا يجوز للرجال.
والراجح العموم، أنه جائز للحاجة، والعادة، والزينة.
بل إنه لا يوجد نص صحيح في تحريم لباس الفضة على الرجال، لا خاتما، ولا غيره، بل جاء في السنن: (( وأما الفضة فالعبوا بها لعبا)) يعنى اصنعوا ما شئتم بها.

ولهذا قال الشيخ الإسلام ابن تيمية وجماعة من العلماء : الأصل في لباس الفضة هو الحل حتى يقوم دليل على تحريم. وهذا القول أصح; لقول اللّٰه تعالى : (( هو الذي خلق لكم ما في الأرض جميعا  )), فإذا جاء الإنسان، واتخذ غير الخاتم مما يتزين به من فضة فلا تقول : إن هذا حرام على القول الراجح; لأن لأصل الحل.
أما السوار، والقلادة في العنق، وما أشبه ذلك، فهذا حرام من وجه  آخر، وهو التشبه بالنساء والتخنث، وربما يساء الظن بهذا الرجل، فهذا يحرم لغيره لا لذاته.

(شرح الممتع على زاد المستقنع، كتاب الزكاة ج ٦ ص ١٠٦-١٠٨. للشيخ محمد بن صالح العثيمن رحمه اللّٰه تعالى )

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *